Bangunan itu berdiri di atas bukit, dikelilingi hutan yang mulai menelan separuh temboknya. Selama hampir 20 tahun, tidak ada yang datang. Lalu satu adegan film mengubah segalanya — dan nama ‘Gereja Ayam Borobudur’ tiba-tiba ada di jutaan caption Instagram.
Sekilas: Bangunan Apa Ini Sebenarnya?
Sebelum kita menyelami lebih jauh, mari luruskan dulu. Nama yang kamu dengar di mana-mana itu, ‘Gereja Ayam Borobudur’, sejujurnya hanyalah julukan populer dari para wisatawan. Nama resminya adalah Bukit Rhema. Ya, Bukit Rhema, tempat kami berada, di kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Bayangkan saja, sebuah bangunan ikonik yang berdiri gagah di ketinggian sekitar 120 mdpl, dikelilingi hamparan sawah hijau yang memanjakan mata. Jaraknya pun tak jauh, hanya sekitar 3,5 km dari megahnya Candi Borobudur. Tempat ini bukan sekadar destinasi foto-foto, tapi sebuah saksi bisu perjalanan waktu, mimpi, dan keteguhan hati.
Bukan gereja biasa — ini ‘Rumah Doa’ lintas agama
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang Bukit Rhema adalah anggapan bahwa ini adalah gereja Kristen. Tapi, tahukah kamu? Bangunan ini sebenarnya dirancang sebagai ‘Rumah Doa’ lintas agama oleh pendirinya, Bapak Daniel Alamsjah. Ini bukan tempat ibadah untuk denominasi tertentu, melainkan sebuah ruang terbuka bagi siapa saja yang ingin berdoa, merenung, atau sekadar mencari ketenangan, apapun keyakinannya.
Daniel Alamsjah punya visi yang luar biasa: sebuah tempat di mana semua orang bisa merasa diterima dan bersama-sama menemukan kedamaian. Bayangkan, di tengah hiruk pikuk dunia, ada sebuah tempat yang berdiri sebagai simbol persatuan dan toleransi, jauh dari sekat-sekat perbedaan. Sensasi berada di dalamnya, merasakan aura ketenangan dan kebersamaan, adalah pengalaman yang tak bisa kamu dapatkan di tempat lain.
Q: Apakah ini benar-benar gereja Kristen?
A: Tidak. Bangunan ini dirancang sebagai ‘Rumah Doa’ lintas agama oleh Daniel Alamsjah—tidak ada denominasi tertentu. Ini adalah ruang terbuka untuk semua.
Awal Mula: Mimpi Daniel Alamsjah (1989)
Kisah sejarah Gereja Ayam Borobudur ini dimulai dari sebuah mimpi yang sangat kuat. Pada tahun 1989, seorang pengusaha Kristen asal Surabaya bernama Daniel Alamsjah mengalami mimpi yang mengubah jalan hidupnya. Dalam mimpinya, ia melihat sebuah bangunan berbentuk merpati yang megah, berdiri di atas bukit, dan menjadi tempat doa bagi semua bangsa.
Mimpi itu begitu nyata, begitu membekas. Daniel Alamsjah merasa terpanggil untuk mewujudkan visi tersebut. Ia kemudian mencari lokasi yang mirip dengan yang ada dalam mimpinya, dan petualangan spiritualnya pun dimulai.
Visi rumah doa yang menjangkau semua agama
Visi yang ada di benak Daniel Alamsjah bukan sekadar membangun sebuah gedung. Lebih dari itu, ia membayangkan sebuah ‘House of Prayer Borobudur’ yang akan menjadi mercusuar spiritual, tempat di mana setiap jiwa bisa menemukan kedekatan dengan Sang Pencipta, tanpa memandang latar belakang agama, suku, atau ras. Ini adalah visi tentang persatuan dalam keberagaman, tentang sebuah rumah yang merangkul semua.
Pencarian lokasi membawa Daniel ke perbukitan Menoreh, dekat Borobudur. Saat ia menemukan bukit di Desa Karangrejo, ia langsung merasa inilah tempat yang ia lihat dalam mimpinya. Ada semacam panggilan batin yang begitu kuat, sebuah perasaan bahwa takdir telah membawanya ke sini. Sebuah keyakinan yang tulus, bahkan di tengah keterbatasan.
Pembangunan dimulai 1992
Dengan semangat dan keyakinan yang membara, pembangunan Bukit Rhema dimulai pada tahun 1992. Daniel Alamsjah mengumpulkan dana dan dukungan dari berbagai pihak, bahkan melibatkan masyarakat lokal untuk membantu proses konstruksi. Ini bukan proyek besar yang didanai korporasi raksasa, melainkan sebuah ikhtiar personal yang digerakkan oleh iman dan mimpi.
Secara perlahan, bangunan unik itu mulai menampakkan wujudnya. Dari pondasi hingga dinding, setiap batu yang terpasang adalah simbol harapan. Orang-orang di sekitar mulai bertanya-tanya, bangunan ayam Magelang apa gerangan yang sedang dibangun di atas bukit ini? Semangat gotong royong dan antusiasme kala itu begitu terasa, menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Gereja Ayam Borobudur yang kini kita kenal.
Mengapa Bentuknya Ayam?
Ini dia pertanyaan yang paling sering muncul, dan mungkin juga ada di benakmu sekarang. Mengapa bangunan yang disebut ‘Rumah Doa’ ini malah berbentuk seperti ayam?
Filosofi merpati damai dalam wujud ayam
Fakta menariknya adalah, Daniel Alamsjah sebenarnya merancang bangunan ini menyerupai burung merpati, simbol perdamaian dan Roh Kudus. Namun, dari sudut pandang tertentu, terutama bagi mata lokal yang sudah terbiasa dengan ayam jago, bentuknya memang lebih mirip seekor ayam jago yang sedang duduk dengan mahkota di kepalanya. Karena itulah, julukan ‘Gereja Ayam’ melekat erat dan menjadi identitas populernya.
Coba deh, kalau kamu datang langsung ke sini, coba cari sudut mana yang membuat bangunan ini terlihat seperti merpati, dan sudut mana yang membuatnya terlihat seperti ayam. Pengalaman ini sendiri sudah menjadi bagian dari petualanganmu. Kamu akan melihat bagaimana perspektif bisa mengubah segalanya.
Q: Kenapa disebut ‘Gereja Ayam’ padahal bentuknya merpati?
A: Dari sudut tertentu bangunan ini lebih mirip ayam jago daripada merpati. Nama populer ini muncul dari wisatawan lokal.
Makna spiritual di balik desain
Terlepas dari perdebatan ‘ayam’ atau ‘merpati’, makna spiritual di balik desain ini jauh lebih dalam. Merpati sendiri melambangkan kedamaian, harapan, dan kesucian. Daniel Alamsjah ingin Bukit Rhema menjadi tempat di mana orang bisa menemukan kedamaian batin, kembali pada harapan, dan merasakan kehadiran yang lebih tinggi.
Filosofi ini mencerminkan semangat inklusivitas dan persatuan yang menjadi inti dari visi ‘Rumah Doa’ ini. Bukan hanya tentang bentuk fisiknya, tapi juga tentang pesan yang ingin disampaikannya kepada dunia. Ini adalah pengingat bahwa di tengah perbedaan, kita semua bisa berkumpul di bawah satu atap, mencari makna yang sama.

Era Terbengkalai (1996–2015)
Setelah awal yang penuh harapan, perjalanan sejarah Gereja Ayam Borobudur ini memasuki babak yang suram. Pembangunan yang dimulai dengan penuh semangat itu harus terhenti di tengah jalan. Bangunan yang belum selesai itu pun perlahan mulai ditelan oleh alam.
Krisis 1998 dan dampaknya ke pembangunan
Titik baliknya adalah krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997-1998. Dana yang semula direncanakan untuk pembangunan Bukit Rhema ikut tergerus habis. Proyek ini tidak lagi memiliki sumber daya untuk melanjutkan. Akhirnya, pada tahun 1996, pembangunan resmi dihentikan. Sebuah mimpi besar terpaksa ditunda, bahkan mungkin dibiarkan mati.
Inilah yang menyebabkan bangunan tersebut terbengkalai selama hampir 20 tahun, tepatnya dari tahun 1996 hingga 2015. Bayangkan saja, sebuah bangunan megah yang seharusnya menjadi simbol harapan, kini berdiri sendirian, sunyi, dan terlupakan di tengah hutan.
20 tahun tersembunyi di hutan
Selama dua dekade itu, Bukit Rhema menjadi semacam ‘rahasia’ yang hanya diketahui oleh warga lokal sekitar. Bangunan itu mulai ditumbuhi lumut dan tanaman liar, memberikan kesan angker dan misterius. Tidak ada pengunjung yang datang, kecuali mungkin beberapa warga yang penasaran atau mencari kayu bakar. Ia benar-benar tersembunyi, seolah-olah waktu berhenti berputar untuknya.
Banyak cerita dan mitos yang beredar di kalangan masyarakat tentang “bangunan ayam” ini. Beberapa menganggapnya tempat keramat, ada pula yang takut mendekat. Selama bertahun-tahun, bangunan ini hanya menjadi saksi bisu pergantian musim, hujan, dan panas, menunggu momennya untuk kembali bersinar. Ini adalah babak penting dalam sejarah Gereja Ayam Borobudur yang mengajarkan tentang ketahanan.
Viral karena AADC 2 (2016)
Lalu, keajaiban pun terjadi. Sebuah film, sebuah adegan, mengubah segalanya. Bukit Rhema yang selama hampir 20 tahun terbengkalai dan terlupakan, tiba-tiba menjadi sorotan dunia.
Satu adegan, jutaan penonton, satu lokasi
Pada tahun 2016, film “Ada Apa dengan Cinta 2” (AADC 2) dirilis. Film ini sangat dinanti, dan salah satu adegannya diambil di dalam bangunan Bukit Rhema. Adegan ikonik antara Nicholas Saputra dan Dian Sastro di lantai atas bangunan, dengan latar belakang pemandangan alam Borobudur yang memukau, sontak menarik perhatian jutaan penonton.
Seketika itu juga, orang-orang bertanya-tanya, di mana lokasi indah ini? Dari situlah nama ‘Gereja Ayam’ mulai dikenal luas, menjadi buah bibir di media sosial, dan menjadi destinasi impian para traveler. Kamu bisa mencari adegan itu di YouTube untuk merasakan kembali momen viralnya.
Dari nyaris nol ke 10.000 pengunjung per bulan
Dampak dari AADC 2 sangat luar biasa. Sebelum viral, hampir tidak ada pengunjung yang datang ke Bukit Rhema. Setelah film itu tayang, jumlah pengunjung langsung melonjak drastis, mencapai lebih dari 10.000 orang per bulan! Dari tempat yang nyaris mati, kini Bukit Rhema hidup kembali, bahkan lebih ramai dari sebelumnya.
Peristiwa ini menjadi titik balik bagi sejarah Gereja Ayam Borobudur. Daniel Alamsjah dan timnya kemudian berbenah, merapikan area sekitar, dan membuka bangunan ini untuk umum. Kini, kamu bisa dengan bebas menjelajahi setiap sudutnya, naik hingga ke kepala bangunan, dan menikmati pemandangan yang sama dengan yang dinikmati Rangga dan Cinta. Sebuah transformasi yang benar-benar ajaib!
Kalau kamu ingin merencanakan kunjungan ke Borobudur dan sekitarnya, jangan lupa intip Pillar Hub Wisata Sunrise Borobudur kami untuk panduan lengkapnya.
Q: Kapan dibuka untuk umum?
A: Setelah viral karena AADC 2 di 2016. Sebelumnya hanya bisa masuk dengan izin khusus.
Bukit Rhema Sekarang: Wisata + Gastronomi
Setelah melewati berbagai pasang surut sejarah, Bukit Rhema kini bangkit dan menjelma menjadi salah satu destinasi wisata paling menarik di sekitar Borobudur. Bukan hanya tentang bangunan ikoniknya, tapi juga pengalaman menyeluruh yang ditawarkannya.
Apa saja yang bisa dikunjungi
Saat kamu berkunjung ke Bukit Rhema, kamu bisa menjelajahi seluruh area bangunan yang memiliki 7 lantai. Ya, kamu bisa naik tangga sampai ke bagian kepala ‘ayam’ atau ‘merpati’ untuk menikmati pemandangan spektakuler. Dari puncak, kamu akan disuguhi panorama 360 derajat yang luar biasa: hamparan sawah hijau membentang luas, perbukitan Menoreh yang gagah, dan pada hari yang cerah, bahkan puncak Merapi-Merbabu akan tampak menyapa dari kejauhan.
Jam buka Bukit Rhema adalah 06.30-17.00, jadi kamu punya banyak waktu untuk eksplorasi. Harga tiket masuknya pun terjangkau, hanya Rp 20.000, dan sudah termasuk snack. Ini adalah kesempatan emas untuk merasakan sendiri sensasi berada di dalam bangunan yang penuh cerita ini. Kamu bisa menikmati sunrise Borobudur dari Bukit Rhema, atau bahkan menyaksikan sunset Borobudur yang memukau dari ketinggian ini.
Q: Bisa masuk ke dalam bangunan?
A: Ya. Kamu bisa naik sampai lantai 7 (kepala ayam) via tangga. View 360 derajat dari atas sangat memukau.
Kedai Bukit Rhema: makan dengan view bangunan ikonik
Setelah puas menjelajahi bangunan dan menikmati pemandangan dari puncaknya, perutmu pasti mulai keroncongan, kan? Nah, di komplek yang sama dengan Bukit Rhema, ada tempat yang sempurna untuk mengisi energi: Kedai Bukit Rhema. Kami berada di sini untuk melengkapi pengalaman wisatamu.
Bayangkan, kamu bisa menikmati hidangan lezat dan kopi hangat dengan view langsung ke bangunan ikonik Bukit Rhema, dikelilingi hijaunya sawah dan sejuknya udara pegunungan. Ini adalah pengalaman gastronomi yang tak kalah istimewa. Kedai Bukit Rhema menawarkan berbagai menu lokal yang menggugah selera, cocok untuk sarapan, makan siang, atau sekadar ngopi sore. Ini adalah salah satu Bukit Rhema fakta yang mungkin belum banyak kamu tahu: kami siap menyambutmu dengan kehangatan khas Borobudur.
Q: Apa hubungan Gereja Ayam dengan Kedai Bukit Rhema?
A: Kedai Bukit Rhema adalah restoran di komplek yang sama—jadi setelah kunjungi bangunan, kamu bisa langsung makan di sini dengan view sawah dan bukit.

Tips Kunjungi Gereja Ayam
Meskipun namanya sudah mendunia, mengunjungi Bukit Rhema atau yang populer disebut Gereja Ayam Borobudur ini tetap butuh sedikit persiapan agar pengalamanmu maksimal. Pertama, karena lokasinya di perbukitan, udara bisa cukup panas di siang hari. Jadi, datanglah di pagi hari sekitar jam buka (06.30) untuk menikmati suasana sejuk dan kabut tipis, atau sore hari menjelang tutup untuk menikmati semilir angin dan matahari terbenam. Jangan lupa bawa topi, kacamata hitam, dan air minum yang cukup, apalagi kalau kamu berencana naik sampai ke puncak bangunan.
Kedua, meskipun jaraknya hanya 3,5 km dari Candi Borobudur, akses jalan menuju Bukit Rhema kadang sedikit menanjak dan berliku. Jika kamu menggunakan kendaraan pribadi, pastikan kondisinya prima. Alternatif lain, kamu bisa menyewa sepeda motor atau menggunakan jasa ojek dari sekitar Borobudur. Untuk kamu yang merencanakan itinerary Borobudur 2 hari 1 malam, Bukit Rhema wajib masuk daftar!
Setelah puas menjelajah dan mengabadikan momen di puncak Bukit Rhema, jangan langsung pulang, ya! Kami tunggu kamu di Kedai Bukit Rhema. Mari nikmati hidangan khas kami sambil bercerita tentang petualanganmu hari ini. Kamu bisa langsung menghubungi kami untuk reservasi atau sekadar bertanya-tanya via WhatsApp: 0857-2577-9520. Atau, intip dulu menu-menu lezat kami di sini: Lihat Menu Kedai Bukit Rhema. Sampai jumpa di Borobudur!



