Di kawasan Perbukitan Menoreh, berdiri Bukit Rhema, bangunan yang oleh banyak wisatawan dikenal sebagai Gereja Ayam Borobudur. Di balik bentuknya yang unik, tempat ini berawal dari doa dan visi Daniel Alamsjah tentang rumah doa bagi semua umat.
Sekilas: Bangunan Apa Ini Sebenarnya?
Sebelum kita menyelami lebih jauh, mari luruskan dulu. Nama yang kamu dengar di mana-mana itu, ‘Gereja Ayam Borobudur’, sejujurnya hanyalah julukan populer dari para wisatawan. Nama resminya adalah Bukit Rhema. Ya, Bukit Rhema, tempat kami berada, di kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Bayangkan saja, sebuah bangunan ikonik yang berdiri gagah di ketinggian sekitar 120 mdpl, dikelilingi hamparan sawah hijau yang memanjakan mata. Jaraknya pun tak jauh, hanya sekitar 2,5 km dari megahnya Candi Borobudur. Tempat ini bukan sekadar destinasi foto-foto, tapi sebuah saksi bisu perjalanan waktu, mimpi, dan keteguhan hati.
Bukan gereja biasa — ini ‘Rumah Doa’ lintas agama
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang Bukit Rhema adalah anggapan bahwa ini adalah gereja Kristen. Tapi, tahukah kamu? Bangunan ini sebenarnya dirancang sebagai ‘Rumah Doa’ lintas agama oleh pendirinya, Bapak Daniel Alamsjah. Ini bukan tempat ibadah untuk denominasi tertentu, melainkan sebuah ruang terbuka bagi siapa saja yang ingin berdoa, merenung, atau sekadar mencari ketenangan, apapun keyakinannya.
Daniel Alamsjah punya visi yang luar biasa: sebuah tempat di mana semua orang bisa merasa diterima dan bersama-sama menemukan kedamaian. Bayangkan, di tengah hiruk pikuk dunia, ada sebuah tempat yang berdiri sebagai simbol persatuan dan toleransi, jauh dari sekat-sekat perbedaan. Sensasi berada di dalamnya, merasakan aura ketenangan dan kebersamaan, adalah pengalaman yang tak bisa kamu dapatkan di tempat lain.
Apakah Bukit Rhema adalah gereja Kristen?
Bukan. Bangunan ini dirancang sebagai rumah doa bagi semua umat oleh Daniel Alamsjah, bukan sebagai gereja untuk denominasi tertentu. Bangunan inti Bukit Rhema tetap dapat digunakan bersama, dan kawasan ini juga memiliki ruang ibadah bagi kebutuhan pengunjung.
Awal Mula: Doa Daniel Alamsjah dan Peletakan Batu Pertama
Pada 1988, Daniel Alamsjah berdoa di area perbukitan yang kini menjadi lokasi bangunan Bukit Rhema. Doa dan pengalaman tersebut menjadi awal dari visi untuk membangun rumah doa bagi semua umat.
Ia kemudian menetapkan kawasan Bukit Rhema di Desa Karangrejo, Borobudur, sebagai tempat untuk mewujudkan visi tersebut. Dari sinilah perjalanan pembangunan bangunan ikonik yang kini dikenal sebagai Gereja Ayam dimulai.
Visi rumah doa yang menjangkau semua agama
Visi yang ada di benak Daniel Alamsjah bukan sekadar membangun sebuah gedung. Lebih dari itu, ia membayangkan sebuah ‘House of Prayer Borobudur’ yang akan menjadi mercusuar spiritual, tempat di mana setiap jiwa bisa menemukan kedekatan dengan Sang Pencipta, tanpa memandang latar belakang agama, suku, atau ras. Ini adalah visi tentang persatuan dalam keberagaman, tentang sebuah rumah yang merangkul semua.
Pencarian lokasi membawa Daniel ke perbukitan Menoreh, dekat Borobudur. Saat ia menemukan bukit di Desa Karangrejo, ia langsung merasa inilah tempat yang ia lihat dalam mimpinya. Ada semacam panggilan batin yang begitu kuat, sebuah perasaan bahwa takdir telah membawanya ke sini. Sebuah keyakinan yang tulus, bahkan di tengah keterbatasan.
Peletakan Batu Pertama pada 1992
Peletakan batu pertama dilakukan pada tahun 1992. Setelah itu, pembangunan bangunan Bukit Rhema berlangsung secara bertahap, mengikuti dukungan dan kemampuan yang tersedia. Ini bukan proyek besar yang didanai korporasi raksasa, melainkan ikhtiar personal yang digerakkan oleh iman dan visi tentang rumah doa.
Secara perlahan, bangunan unik itu mulai menampakkan wujudnya. Dari pondasi hingga dinding, setiap batu yang terpasang adalah simbol harapan. Orang-orang di sekitar mulai bertanya-tanya, bangunan ayam Magelang apa gerangan yang sedang dibangun di atas bukit ini? Semangat gotong royong dan antusiasme kala itu begitu terasa, menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Gereja Ayam Borobudur yang kini kita kenal.
Mengapa Bentuknya Ayam?
Ini dia pertanyaan yang paling sering muncul, dan mungkin juga ada di benakmu sekarang. Mengapa bangunan yang disebut ‘Rumah Doa’ ini malah berbentuk seperti ayam?
Filosofi merpati damai dalam wujud ayam
Fakta menariknya adalah, Daniel Alamsjah sebenarnya merancang bangunan ini menyerupai burung merpati, simbol perdamaian dan Roh Kudus. Namun, dari sudut pandang tertentu, terutama bagi mata lokal yang sudah terbiasa dengan ayam jago, bentuknya memang lebih mirip seekor ayam jago yang sedang duduk dengan mahkota di kepalanya. Karena itulah, julukan ‘Gereja Ayam’ melekat erat dan menjadi identitas populernya.
Coba deh, kalau kamu datang langsung ke sini, coba cari sudut mana yang membuat bangunan ini terlihat seperti merpati, dan sudut mana yang membuatnya terlihat seperti ayam. Pengalaman ini sendiri sudah menjadi bagian dari petualanganmu. Kamu akan melihat bagaimana perspektif bisa mengubah segalanya.
Mengapa disebut Gereja Ayam?
Daniel Alamsjah merancang bangunan ini menyerupai burung merpati sebagai simbol perdamaian. Namun, masyarakat sekitar melihat bagian kepala yang memakai mahkota lebih mirip jengger ayam. Dari situlah sebutan Gereja Ayam menjadi populer.
Makna spiritual di balik desain
Terlepas dari perdebatan ‘ayam’ atau ‘merpati’, makna spiritual di balik desain ini jauh lebih dalam. Merpati sendiri melambangkan kedamaian, harapan, dan kesucian. Daniel Alamsjah ingin Bukit Rhema menjadi tempat di mana orang bisa menemukan kedamaian batin, kembali pada harapan, dan merasakan kehadiran yang lebih tinggi.
Filosofi ini mencerminkan semangat inklusivitas dan persatuan yang menjadi inti dari visi ‘Rumah Doa’ ini. Bukan hanya tentang bentuk fisiknya, tapi juga tentang pesan yang ingin disampaikannya kepada dunia. Ini adalah pengingat bahwa di tengah perbedaan, kita semua bisa berkumpul di bawah satu atap, mencari makna yang sama.

Masa Terbengkalai (1999–2012)
Setelah awal yang penuh harapan, perjalanan sejarah Gereja Ayam Borobudur ini memasuki babak yang suram. Pembangunan yang dimulai dengan penuh semangat itu harus terhenti di tengah jalan. Bangunan yang belum selesai itu pun perlahan mulai ditelan oleh alam.
Pembangunan Berhenti pada 1999
Pada 1999, pembangunan Bukit Rhema berhenti. Setelah itu, Daniel Alamsjah lebih berfokus pada pelayanan di Panti Rehabilitasi Betesda. Kondisi tersebut membuat area dan bangunan Bukit Rhema tidak terawat selama beberapa tahun.
Sejak pembangunan berhenti pada 1999 sampai 2012, area Bukit Rhema berada dalam kondisi terbengkalai dan jarang dikunjungi. Bangunan yang belum selesai itu perlahan menyatu dengan lingkungan sekitarnya hingga kemudian mulai dibersihkan kembali.
Area Mulai Dibersihkan pada 2012
Pada 2012, area yang lama tidak terawat mulai dibersihkan kembali. Proses ini menjadi langkah penting untuk menata lingkungan Bukit Rhema dan membuka kembali akses bagi orang-orang yang ingin mengenal bangunan tersebut.
Banyak cerita dan mitos yang beredar di kalangan masyarakat tentang “bangunan ayam” ini. Beberapa menganggapnya tempat keramat, ada pula yang takut mendekat. Selama bertahun-tahun, bangunan ini hanya menjadi saksi bisu pergantian musim, hujan, dan panas, menunggu momennya untuk kembali bersinar. Ini adalah babak penting dalam sejarah Gereja Ayam Borobudur yang mengajarkan tentang ketahanan.
Lokasi Syuting AADC 2 pada 2015
Setelah area mulai dibersihkan, perhatian terhadap Bukit Rhema semakin besar. Pada 2015, sebuah produksi film menggunakan lokasi ini untuk pengambilan gambar dan memperkenalkan suasananya kepada lebih banyak penonton.
Satu Lokasi yang Mengundang Perhatian Wisatawan
Pada 2015, film “Ada Apa dengan Cinta 2” (AADC 2) menggunakan Bukit Rhema sebagai salah satu lokasi syuting. Bangunan dan pemandangan dari kawasan ini kemudian semakin dikenal, sehingga banyak wisatawan mulai mencari dan mengunjungi tempat yang sebelumnya tidak banyak diketahui.
Seketika itu juga, orang-orang bertanya-tanya, di mana lokasi indah ini? Dari situlah nama ‘Gereja Ayam’ mulai dikenal luas, menjadi buah bibir di media sosial, dan menjadi destinasi impian para traveler. Kamu bisa mencari adegan itu di YouTube untuk merasakan kembali momen viralnya.
Dari nyaris nol ke 10.000 pengunjung per bulan
Setelah AADC 2 menggunakan lokasi ini, kunjungan wisatawan ke Bukit Rhema meningkat dan kawasan tersebut menjadi lebih ramai. Film itu menjadi salah satu momen penting yang membantu memperkenalkan Gereja Ayam kepada wisatawan dari berbagai daerah.
Peristiwa ini menjadi titik balik bagi sejarah Gereja Ayam Borobudur. Daniel Alamsjah dan timnya kemudian berbenah, merapikan area sekitar, dan membuka bangunan ini untuk umum. Kini, kamu bisa dengan bebas menjelajahi setiap sudutnya, naik hingga ke kepala bangunan, dan menikmati pemandangan yang sama dengan yang dinikmati Rangga dan Cinta. Sebuah transformasi yang benar-benar ajaib!
Kalau kamu ingin merencanakan kunjungan ke Borobudur dan sekitarnya, jangan lupa intip Pillar Hub Wisata Sunrise Borobudur kami untuk panduan lengkapnya.
Kapan Bukit Rhema mulai ramai dikunjungi?
Area Bukit Rhema mulai ditata dan dibersihkan kembali pada 2012. Setelah digunakan sebagai lokasi syuting AADC 2 pada 2015, tempat ini semakin dikenal dan ramai dikunjungi wisatawan.
Bukit Rhema Sekarang: Wisata + Gastronomi
Setelah melewati berbagai pasang surut sejarah, Bukit Rhema kini bangkit dan menjelma menjadi salah satu destinasi wisata paling menarik di sekitar Borobudur. Bukan hanya tentang bangunan ikoniknya, tapi juga pengalaman menyeluruh yang ditawarkannya.
Apa saja yang bisa dikunjungi
Saat kamu berkunjung ke Bukit Rhema, kamu bisa menjelajahi seluruh area bangunan yang memiliki 7 lantai. Ya, kamu bisa naik tangga sampai ke bagian kepala ‘ayam’ atau ‘merpati’ untuk menikmati pemandangan spektakuler. Dari puncak, kamu akan disuguhi panorama 360 derajat yang luar biasa: hamparan sawah hijau membentang luas, perbukitan Menoreh yang gagah, dan pada hari yang cerah, bahkan puncak Merapi-Merbabu akan tampak menyapa dari kejauhan.
Jam operasional area wisata Bukit Rhema atau Gereja Ayam adalah 06.30-17.00 WIB. Untuk makan dan beristirahat, Kedai Bukit Rhema buka setiap hari pada pukul 06.00-19.00 WIB. Program sunrise tersedia mulai pukul 04.30 WIB melalui booking terlebih dahulu. Harga tiket masuk area wisata Bukit Rhema adalah Rp 25.000 per orang. Dengan waktu kunjungan yang cukup panjang, kamu bisa menjelajahi bangunan, menikmati panorama, lalu melanjutkan waktu di Kedai Bukit Rhema.
Apakah pengunjung bisa masuk ke dalam bangunan?
Ya. Pengunjung dapat naik melalui tangga hingga lantai 7, yaitu bagian kepala bangunan, untuk menikmati pemandangan 360 derajat Perbukitan Menoreh dan kawasan Borobudur.
Kedai Bukit Rhema: makan dengan view bangunan ikonik
Setelah puas menjelajahi bangunan dan menikmati pemandangan dari puncaknya, perutmu pasti mulai keroncongan, kan? Nah, di komplek yang sama dengan Bukit Rhema, ada tempat yang sempurna untuk mengisi energi: Kedai Bukit Rhema. Kami berada di sini untuk melengkapi pengalaman wisatamu.
Bayangkan, kamu bisa menikmati hidangan lezat dan kopi hangat dengan view langsung ke bangunan ikonik Bukit Rhema, dikelilingi hijaunya sawah dan sejuknya udara pegunungan. Ini adalah pengalaman gastronomi yang tak kalah istimewa. Kedai Bukit Rhema menawarkan berbagai menu lokal yang menggugah selera, cocok untuk sarapan, makan siang, atau sekadar ngopi sore. Ini adalah salah satu Bukit Rhema fakta yang mungkin belum banyak kamu tahu: kami siap menyambutmu dengan kehangatan khas Borobudur.
Apa hubungan Gereja Ayam dengan Kedai Bukit Rhema?
Kedai Bukit Rhema adalah restoran yang berada di kompleks yang sama. Setelah mengunjungi bangunan Bukit Rhema, wisatawan dapat makan, menikmati kopi, dan beristirahat dengan pemandangan sawah serta Perbukitan Menoreh.

Tips Kunjungi Gereja Ayam
Mengunjungi Bukit Rhema atau Gereja Ayam Borobudur tetap membutuhkan sedikit persiapan agar pengalamanmu maksimal. Karena lokasinya berada di perbukitan, datanglah pada pagi hari sekitar jam buka area wisata, yaitu 06.30 WIB, untuk menikmati suasana yang lebih sejuk. Jika ingin mengikuti program sunrise pukul 04.30 WIB, lakukan booking terlebih dahulu. Jangan lupa membawa topi, kacamata hitam, dan air minum yang cukup, terutama jika kamu berencana naik sampai ke puncak bangunan.
Dari Candi Borobudur, jarak menuju Bukit Rhema sekitar 2,5 km. Akses jalan menuju lokasi mudah diikuti menggunakan Google Maps, meskipun beberapa bagian jalan menanjak dan berliku. Jika menggunakan kendaraan pribadi, pastikan kondisi kendaraan prima dan periksa rute sebelum berangkat. Untuk kamu yang merencanakan itinerary Borobudur 2 hari 1 malam, Bukit Rhema bisa masuk dalam daftar kunjungan.
Setelah puas menjelajah dan mengabadikan momen di puncak Bukit Rhema, jangan langsung pulang, ya! Kami tunggu kamu di Kedai Bukit Rhema. Mari nikmati hidangan khas kami sambil bercerita tentang petualanganmu hari ini. Kamu bisa langsung menghubungi kami untuk reservasi atau sekadar bertanya-tanya via WhatsApp: 0857-2577-9520. Atau, intip dulu menu-menu lezat kami di sini: Lihat Menu Kedai Bukit Rhema. Sampai jumpa di Borobudur!



